Postingan kali ini bukan membahas kembali tentang cara saya dalam berterima kasih, Bukan juga tentang konsep saling memberi dan saling menerima. Bahasan sebuah motivasi dan keteladanan dalam hidup. Mari kita simak sebuah cerita pada suatu senja di kota Surabaya.
Seorang anak merengek minta dibelikan jagung bakar saat diajak bermain di wilayah kodam Surabaya. Dengan sedikit enggan ibunya mengulurkan selembar uang lima ribuan dan mengawasinya saat sang anak melihat proses jagung dibakar. Lalu si anak dengan tekun mengikuti gerak-gerik nenek tua penjual jagung bakar memainkan kipas bambunya.
Mata kanak-kanaknya membulat terheran-heran pada pletikan biji jagung yang dibakar dengan arang, asap, serta harum yang tertebar kesekitarnya. Sedangkan nenek tua berpakaian lusuh itu tersenyum melirik anak kecil yang jongkok di sebelahnya. Mata tuanya meredup melayang entah kemana. Sesekali dicubitnya pipi anak itu yang memang menggemaskan.
Kemudian diberikannya jagung bakar itu pada anak yang sedari tadi berharap-harap takjub, katanya, "Ambil saja buatmu nak. Tak usah dibayar." Si ibu mengucapkan terima kasih lalu berkata pada sang ayah, "Lumayan, kita dapat rejeki satu jagung bakar" Lalu mereka meninggalkan Pasar malam Kodam itu dengan kendaraan roda empat mereka.
Tunggu dulu wahai ibu! Mengapa kau menyebutnya sebagai rejeki? Bukankah dengan demikian si nenek tua itu malah kehilangan sebagian penghasilannya yang tak seberapa? Tidakkah kau terpanggil untuk membalas pemberian itu dengan sesuatu yang lebih dari sekedar kata terima kasih? Memang, menerima selalu menyenangkan. Namun, memberi dengan sikap tulus lebih membahagiakan. Tahukah kau, wahai ibu, hati nenek tua itu sangat terang, jauh lebih terang dari lampu yang menerangi temaram senja itu.
Bagaimana menurut pendapat anda dengan kejadian itu? Kalau mau jujur kita ingin seperti siapa? Dan saat ini kita masih sebagai Si Ibu atau Sang Nenek Tua?
Jadi malu kalau bercermin pada kisah diatas.
Tampilkan postingan dengan label Artikel Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Senin, 23 Februari 2009
Tindakan kita sebatas kita memandang Dunia .
Manusia adalah makhluk yang sangat unik dan kompleks, bahkan saking kompleksnya sampai ada yang berperilaku lucu. Manusia juga mampu mencapai prestasi sangat tinggi tapi juga ada yang tidak berkarya apa-apa semasa hidup. Kenapa sebenarnya kok bisa begitu? Apa memang bagian dari takdir Tuhan? mungkin begitu, tapi kita oleh Tuhan juga diwajibkan berusaha dan berbuat sesuatu dimuka bumi. Lalu bagaimana agar kita menjadi manusia yang berprestasi. Bisa berguna bagi manusia lainnya? Intinya adalah berpikir besar. Jangan lupa satu lagi kita harus BERANI.
Bila anda memandang diri anda kecil, dunia akan tampak sempit bagi anda, dan tindakan anda pun jadi kerdil. Karena anda tidak akan bisa memiliki kepercayaan diri. Namun, bila anda memandang diri anda besar, dunia terlihat luas, anda pun melakukan hal-hal penting dan berharga. Karena sebenarnya pikiran akan menuntun langkah anda.
Tindakan anda adalah cermin bagaimana anda melihat dunia. Sementara dunia anda tak lebih luas dari pikiran anda tentang diri anda sendiri. Itulah mengapa kita diajarkan untuk berprasangka positif pada diri sendiri, agar kita bisa melihat dunia lebih indah, dan bertindak selaras dengan kebaikan-kebaikan yang ada dalam pikiran kita. Padahal dunia tak butuh penilaian apa-apa dari kita. Dia hanya memantulkan apa yang ingin kita lihat. Ia menggemakan apa yang ingin kita dengar. Jila kita takut menghadapi dunia, sesungguhnya kita takut menghadapi diri kita sendiri.
Maka, bukan soal apakah kita berprasangka positif atau negatif terhadap diri sendiri. Melampaui di atas itu, kita perlu jujur melihat diri sendiri apa adanya. Dan, dunia pun menampakkan realitanya yang selama ini tersembunyi di balik penilaian-penilaian kita.
Semoga jika kita renungkan akna bermanfaat bagi kita.
Sebuah artikel pendek, tapi jika direnungkan dan dijalankan, akan membuat kehidupan kita lebih baik. Berpikirlah anda bisa, dan anda akan mendapatkan jalannya. Salam!
Bila anda memandang diri anda kecil, dunia akan tampak sempit bagi anda, dan tindakan anda pun jadi kerdil. Karena anda tidak akan bisa memiliki kepercayaan diri. Namun, bila anda memandang diri anda besar, dunia terlihat luas, anda pun melakukan hal-hal penting dan berharga. Karena sebenarnya pikiran akan menuntun langkah anda.
Tindakan anda adalah cermin bagaimana anda melihat dunia. Sementara dunia anda tak lebih luas dari pikiran anda tentang diri anda sendiri. Itulah mengapa kita diajarkan untuk berprasangka positif pada diri sendiri, agar kita bisa melihat dunia lebih indah, dan bertindak selaras dengan kebaikan-kebaikan yang ada dalam pikiran kita. Padahal dunia tak butuh penilaian apa-apa dari kita. Dia hanya memantulkan apa yang ingin kita lihat. Ia menggemakan apa yang ingin kita dengar. Jila kita takut menghadapi dunia, sesungguhnya kita takut menghadapi diri kita sendiri.
Maka, bukan soal apakah kita berprasangka positif atau negatif terhadap diri sendiri. Melampaui di atas itu, kita perlu jujur melihat diri sendiri apa adanya. Dan, dunia pun menampakkan realitanya yang selama ini tersembunyi di balik penilaian-penilaian kita.
Semoga jika kita renungkan akna bermanfaat bagi kita.
Sebuah artikel pendek, tapi jika direnungkan dan dijalankan, akan membuat kehidupan kita lebih baik. Berpikirlah anda bisa, dan anda akan mendapatkan jalannya. Salam!
Label:
Artikel Kehidupan
Batu Besar dalam hidup
Suatu hari seorang guru sedang memberi pelajaran tentang kehidupan dan tentang manajemen waktu pada para siswanya. Dengan penuh semangat ia berdiri depan kelas dan berkata, "OK, sekarang waktunya untuk quiz." Kemudian ia mengeluarkan sebuah ember kosong dan meletakkannya di meja. Kemudian ia mengisi ember tersebut dengan batu sebesar sekepalan tangan. Ia mengisi terus hingga tidak ada lagi batu yang cukup untuk dimasukkan ke dalam ember. Ia bertanya pada kelas, "Menurut kalian, apakah ember ini telah penuh?"
Semua siswa serentak berkata, "Ya!"
Guru bertanya kembali, "Benarkah?" Kemudian,dari dalam meja ia mengeluarkan sekantung kerikil kecil. Ia menuangkan kerikil-kerikil itu ke dalam ember lalu mengocok-ngocok ember itu sehingga kerikil-kerikil itu turun ke bawah mengisi celah-celah kosong di antara batu-batu. Kemudian, sekali lagi ia bertanya pada kelas, "Nah, apakah sekarang ember ini sudah penuh?"
Kali ini para siswa terdiam. Seorang siswa menjawab,"Mungkin tidak."
"Bagus sekali," sahut sang guru. Kemudian ia mengeluarkan sekantung pasir dan menuangkannya ke dalam ember. Pasir itu berjatuhan mengisi celah-celah kosong antara batu dan kerikil. Sekali lagi, ia bertanya pada kelas, "Baiklah, apakah sekarang ember ini sudah penuh?"
"Belum!" sahut seluruh kelas.
Sekali lagi ia berkata, "Bagus. Bagus sekali." Kemudian ia meraih sebotol air dan mulai menuangkan airnya ke dalam ember sampai ke bibir ember. Lalu ia menoleh ke kelas dan bertanya, "Tahukah kalian apa maksud illustrasi ini?"
Seorang siswa dengan semangat mengacungkan jari dan berkata, "Maksudnya adalah, tak peduli seberapa padat jadwal kita, bila kita mau berusaha sekuat tenaga maka pasti kita bisa mengerjakannya."
"Oh, bukan," sahut sang guru, "Bukan itu maksudnya. Kenyataan dari illustrasi mengajarkan pada kita bahwa: bila anda tidak memasukkan "batu besar" terlebih dahulu, maka anda tidak akan bisa memasukkan semuanya."
Apa yang dimaksud dengan "batu besar" dalam hidup anda? Anak-anak anda, pasangan anda, pendidikan anda, hal-hal yang penting dalam hidup anda, mengajarkan sesuatu pada orang lain, melakukan pekerjaan yang kau cintai, waktu untuk diri sendiri, kesehatan anda, teman anda, atau semua yang berharga.
Ingatlah untuk selalu memasukkan "Batu Besar" pertama kali atau anda akan kehilangan semuanya. Bila anda mengisinya dengan hal-hal kecil (semacam kerikil dan pasir) maka hidup anda akan penuh dengan hal-hal kecil yang merisaukan dan ini semestinya tidak perlu. Karena dengan demikian anda tidak akan pernah memiliki waktu yang sesungguhnya anda perlukan untuk hal-hal besar dan penting.
Oleh karena itu, setiap pagi atau malam, ketika akan merenungkan cerita pendek ini, tanyalah pada diri anda sendiri: "Apakah "Batu Besar" dalam hidup saya?" Lalu kerjakan itu pertama kali."
Semua siswa serentak berkata, "Ya!"
Guru bertanya kembali, "Benarkah?" Kemudian,dari dalam meja ia mengeluarkan sekantung kerikil kecil. Ia menuangkan kerikil-kerikil itu ke dalam ember lalu mengocok-ngocok ember itu sehingga kerikil-kerikil itu turun ke bawah mengisi celah-celah kosong di antara batu-batu. Kemudian, sekali lagi ia bertanya pada kelas, "Nah, apakah sekarang ember ini sudah penuh?"
Kali ini para siswa terdiam. Seorang siswa menjawab,"Mungkin tidak."
"Bagus sekali," sahut sang guru. Kemudian ia mengeluarkan sekantung pasir dan menuangkannya ke dalam ember. Pasir itu berjatuhan mengisi celah-celah kosong antara batu dan kerikil. Sekali lagi, ia bertanya pada kelas, "Baiklah, apakah sekarang ember ini sudah penuh?"
"Belum!" sahut seluruh kelas.
Sekali lagi ia berkata, "Bagus. Bagus sekali." Kemudian ia meraih sebotol air dan mulai menuangkan airnya ke dalam ember sampai ke bibir ember. Lalu ia menoleh ke kelas dan bertanya, "Tahukah kalian apa maksud illustrasi ini?"
Seorang siswa dengan semangat mengacungkan jari dan berkata, "Maksudnya adalah, tak peduli seberapa padat jadwal kita, bila kita mau berusaha sekuat tenaga maka pasti kita bisa mengerjakannya."
"Oh, bukan," sahut sang guru, "Bukan itu maksudnya. Kenyataan dari illustrasi mengajarkan pada kita bahwa: bila anda tidak memasukkan "batu besar" terlebih dahulu, maka anda tidak akan bisa memasukkan semuanya."
Apa yang dimaksud dengan "batu besar" dalam hidup anda? Anak-anak anda, pasangan anda, pendidikan anda, hal-hal yang penting dalam hidup anda, mengajarkan sesuatu pada orang lain, melakukan pekerjaan yang kau cintai, waktu untuk diri sendiri, kesehatan anda, teman anda, atau semua yang berharga.
Ingatlah untuk selalu memasukkan "Batu Besar" pertama kali atau anda akan kehilangan semuanya. Bila anda mengisinya dengan hal-hal kecil (semacam kerikil dan pasir) maka hidup anda akan penuh dengan hal-hal kecil yang merisaukan dan ini semestinya tidak perlu. Karena dengan demikian anda tidak akan pernah memiliki waktu yang sesungguhnya anda perlukan untuk hal-hal besar dan penting.
Oleh karena itu, setiap pagi atau malam, ketika akan merenungkan cerita pendek ini, tanyalah pada diri anda sendiri: "Apakah "Batu Besar" dalam hidup saya?" Lalu kerjakan itu pertama kali."
Label:
Artikel Kehidupan
Langganan:
Postingan (Atom)